MAROS — Menjelang musim panen raya di Kabupaten Maros, para pemilik truk ekspedisi maupun tronton yang diduga selama ini melakukan aktivitas pelansiran BBM subsidi jenis Bio Solar diminta menghentikan sementara kegiatannya. Pasalnya, kebutuhan solar bagi petani yang mengoperasikan mesin panen combine harvester diperkirakan akan meningkat signifikan.
“Nantilah melansir setelah panen selesai. Biarkan dulu kami membeli solar untuk kebutuhan mesin panen combine. Kasihan petani kalau sampai kesulitan mendapatkan solar,” ujar Andi, salah seorang petani.
Di Kabupaten Maros, SPBU Jawi-Jawi di Kecamatan Bantimurung menjadi salah satu SPBU yang melayani pembelian Bio Solar menggunakan barcode bagi petani. Namun, masyarakat berharap pengawasan di lapangan diperketat agar penyaluran BBM subsidi benar-benar tepat sasaran.
Warga menduga masih ada praktik penyalahgunaan barcode dengan menggunakan identitas yang berbeda-beda untuk memperoleh Bio Solar subsidi. Modus yang disebut-sebut terjadi adalah kendaraan tangki atau truk yang telah dimodifikasi dengan kapasitas melebihi standar, kemudian keluar-masuk ke sejumlah SPBU untuk melakukan pembelian berulang.
BBM yang berhasil dikumpulkan tersebut diduga kemudian dipasarkan kembali kepada perusahaan transportasi menggunakan tangki berlabel industri. Dugaan lainnya, BBM tersebut selanjutnya didokumentasikan melalui administrasi perusahaan sehingga seolah-olah berasal dari jalur distribusi resmi.
Jika praktik semacam ini benar terjadi, maka bukan hanya berpotensi merugikan keuangan negara, tetapi juga mengancam kebutuhan petani yang sangat bergantung pada ketersediaan Bio Solar saat musim panen. Aparat penegak hukum, pengawas distribusi BBM, serta instansi terkait diharapkan meningkatkan pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi agar hak petani tidak dikalahkan oleh kepentingan segelintir pihak.
JM





















