JAKARTA – Ketua Umum Jaringan Anak Muda Nusantara (JAMAN), Henriono, melontarkan kritik terhadap gaya komunikasi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat memberikan kuliah umum di berbagai kampus belakangan ini, salah satunya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Gorontalo.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Henriono menegaskan bahwa dirinya mengapresiasi upaya Menteri Pertanian dalam memberikan motivasi kepada mahasiswa dan civitas akademika. Namun, ia menilai terdapat sejumlah pernyataan yang terkesan arogan dan berpotensi menimbulkan tafsir negatif di kalangan mahasiswa maupun publik.
“Memberikan semangat kepada mahasiswa tentu merupakan hal yang baik dan patut diapresiasi. Namun, ada beberapa pernyataan yang menurut saya terkesan arogan dan perlu dikritisi,” ujar Henriono, Rabu (24/6/2026).
Salah satu pernyataan yang disorot adalah ungkapan mengenai pihak yang membawa proposal sebagai pihak yang dianggap “hina”, bahkan disebut hina di mata manusia dan di hadapan Tuhan. Menurut Henriono, pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan stigma negatif terhadap praktik pengajuan proposal yang selama ini menjadi bagian penting dari aktivitas organisasi kemahasiswaan maupun lembaga kemasyarakatan.
“Saya pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya dan memahami bahwa proposal merupakan instrumen administratif yang lazim digunakan untuk mengajukan program, kegiatan, maupun pengembangan kapasitas kader dan organisasi. Karena itu, saya menyayangkan jika proposal dipersepsikan secara negatif, padahal di dalamnya terdapat gagasan intelektual dan tujuan yang baik,” katanya.
Henriono menilai proposal tidak hanya digunakan oleh organisasi mahasiswa, tetapi juga oleh pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, hingga berbagai institusi lainnya dalam menyampaikan program dan kebutuhan kepada pihak terkait.
Sebagai contoh, menurutnya, mahasiswa membutuhkan proposal untuk melaksanakan berbagai kegiatan berskala nasional, seperti forum diskusi, temu ide, kongres, musyawarah nasional, maupun kegiatan pengembangan kepemimpinan yang sering diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa, seperti BEM Nusantara, BEM Seluruh Indonesia, serta organisasi Cipayung, di antaranya HMI, PMII, IMM, GMNI, GMKI, KAMMI, PII, dan PMKRI.
Selain itu, kelompok tani di berbagai daerah juga lazim menggunakan proposal untuk mengajukan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), program cetak sawah baru, maupun berbagai bentuk dukungan pemerintah lainnya yang diajukan melalui mekanisme administrasi yang berlaku.
“Apakah bantuan tersebut dapat direalisasikan tanpa proposal? Saya pikir tidak bisa. Proposal merupakan bagian dari tertib administrasi yang harus dijalankan oleh organisasi maupun lembaga pemerintah. Dokumen itu menjadi bukti bahwa suatu kegiatan memiliki tujuan yang jelas, sekaligus menjadi instrumen pengawasan untuk mencegah penyalahgunaan anggaran negara,” ujarnya.
Selain persoalan proposal, Ketua Umum JAMAN juga menyoroti pernyataan Menteri Pertanian mengenai potensi pendapatan dari pengelolaan lahan pertanian skala besar. Menurutnya, pernyataan bahwa lahan seluas 100 hektare dapat menghasilkan pendapatan minimal Rp10 miliar per bulan perlu dijelaskan secara lebih rinci dan ilmiah.
“Karena disampaikan di lingkungan kampus, tentu mahasiswa membutuhkan penjelasan yang berbasis data, kalkulasi, dan indikator yang jelas. Jika memang memungkinkan, maka perlu dipaparkan komoditas, teknologi, model bisnis, dan skema usaha yang dapat menghasilkan angka tersebut,” ujarnya.
Henriono menilai kampus merupakan ruang akademik yang harus dihormati melalui penyampaian gagasan yang argumentatif, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya tidak ditujukan untuk menafikan berbagai program dan bantuan yang telah diberikan Kementerian Pertanian kepada masyarakat.
“Kami tetap mengapresiasi setiap kebijakan dan bantuan yang memberikan manfaat kepada rakyat. Itu merupakan bagian dari tugas pemerintah yang memang harus didukung. Namun, kritik terhadap pernyataan publik juga penting agar komunikasi pejabat negara lebih bijak, edukatif, dan tidak menimbulkan salah tafsir,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, terkait kritik yang disampaikan Ketua Umum JAMAN tersebut.
SYUKRI





















