MAROS — Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an XXXIV Sulawesi Selatan tahun 2026 di Maros berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Setiap malam, panggung utama yang megah dipadati ribuan warga yang datang menyaksikan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para Qori dan Qoriah terbaik, utusan dari 24 kafilah se-Sulawesi Selatan.
Dalam pelaksanaannya, panitia menerapkan sistem penilaian yang ketat dan menjaga objektivitas. Para Qori dan Qoriah tidak diperkenalkan berdasarkan nama maupun asal daerah, melainkan hanya menggunakan nomor peserta. Bahkan, peserta harus mengambil nomor secara acak untuk menentukan ayat yang akan dibacakan.
Sebanyak sembilan orang dewan juri ditempatkan di ruangan terpisah tanpa akses visual terhadap peserta. Mereka hanya mendengarkan suara lantunan tilawah sebagai dasar penilaian, tanpa mengetahui identitas maupun asal kafilah peserta.
“Kami pastikan dewan juri tidak mengetahui pesertanya dan tidak diumumkan asal kafilahnya, kecuali nomor peserta yang mereka tahu dan nilai,” tegas Ketua Panitia, Andi Muetazim Mansyur.
Antusiasme masyarakat diperkirakan akan semakin memuncak. Setelah babak penyisihan cabang Tilawah (Seni Baca Al-Qur’an) yang berlangsung malam ini, Kamis (16/4), ajang akan langsung memasuki babak final pada esok hari. Sebanyak 10 peserta terbaik akan tampil memperebutkan posisi puncak sekaligus menentukan siapa yang layak melaju ke kualifikasi berikutnya.
Momentum final ini diprediksi menjadi puncak perhatian warga Maros, dengan persaingan yang semakin ketat dan kualitas bacaan yang lebih tinggi. Ribuan masyarakat pun diperkirakan kembali memadati arena utama untuk menyaksikan langsung penampilan terbaik para finalis dalam ajang religius bergengsi tersebut.
JUM





















