MAROS — Suasana semarak menyelimuti wilayah kampung, Dusun Pattontongan, Desa Pattontongan Kecamatan Mandai, dalam rangkaian pesta panen yang dirangkaikan dengan tradisi adat Appalili dan Adekka Aselolo. Kegiatan ini menjadi momen langka yang sarat makna kebersamaan dan nilai budaya lokal.
Salah satu prosesi yang paling menyita perhatian adalah arak-arakan kerbau keliling kampung. Hewan tersebut merupakan bentuk nazar (hajaj) yang ditunaikan oleh salah satu warga setempat, Dg Baharuddin. Prosesi ini bukan sekadar ritual, melainkan simbol undangan terbuka kepada seluruh warga untuk hadir dan ikut serta dalam perayaan.
Tradisi Appalili diikuti ratusan warga yang berjalan bersama mengelilingi batas wilayah Pattontongan. Sepanjang perjalanan, rombongan diiringi alunan gendang adat yang menambah khidmat sekaligus semarak suasana. Jalur yang ditempuh pun terbilang cukup jauh, mencerminkan makna kebersamaan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam tradisi tersebut.
Kerbau yang diarak kemudian disembelih dan diolah untuk dinikmati bersama oleh masyarakat. Tradisi makan bersama ini menjadi wujud nyata dari semangat gotong royong dan kebersamaan yang masih terjaga kuat di tengah masyarakat Pattontongan.
Appalili yang dirangkaikan dengan Adekka Aselolo memiliki makna mendalam sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga. Tradisi Appalili sendiri dirangkaikan dengan Adengka Ase Lolo yang dilaksanakan lima tahun sekali, meskipun rangkaian Adengka Ase Lolo pada dasarnya tetap digelar setiap tahun oleh masyarakat setempat.
Ketua Umum Forum Pemerhati Adat Budaya Nusantara, Muh Tahir Sila Dg. Lanti, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Menurutnya, tradisi seperti Appalili dan Adekka Aselolo memiliki nilai positif yang sangat penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pelestarian adat bukan sekadar menjaga ritual, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta penghormatan terhadap warisan leluhur. “Di tengah arus modernisasi, tradisi seperti ini menjadi benteng sosial yang menjaga karakter masyarakat agar tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai kegiatan ini juga memiliki potensi sebagai penguat harmoni sosial dan edukasi budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai adat istiadatnya. Dengan demikian, keberlanjutan tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab tokoh adat, tetapi seluruh elemen masyarakat.
Dengan kekayaan nilai budaya yang terkandung di dalamnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga tradisi sebagai identitas dan warisan leluhur.
JUM















