PALOPO — Di balik sikap dingin Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) terhadap wacana pemekaran Provinsi Luwu Raya, tersimpan kepentingan besar yang jarang disampaikan ke ruang publik. Jika Tana Luwu benar-benar mekar dan lepas dari Sulsel, provinsi induk berpotensi menanggung kerugian serius—baik secara politik, ekonomi, maupun fiskal.
Secara geografis dan ekonomi, Luwu Raya yang meliputi Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur selama ini menjadi salah satu penopang utama Sulsel, khususnya di sektor sumber daya alam dan industri ekstraktif.
Luwu Timur dikenal sebagai salah satu pusat tambang nikel terbesar di Indonesia, sekaligus lokasi operasi PT Vale Indonesia. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel serta Dana Bagi Hasil (DBH) sangat signifikan. Kehilangan wilayah ini berarti kehilangan salah satu tulang punggung ekonomi provinsi.
Jika Luwu Raya berdiri sebagai provinsi sendiri, Pemprov Sulsel berpotensi menghadapi sejumlah dampak besar:
1. Kehilangan Basis SDA Strategis
Lepasnya Luwu Timur akan membuat Sulsel kehilangan pusat tambang nikel, kawasan industri smelter, serta potensi investasi hilirisasi mineral bernilai triliunan rupiah per tahun. Ini bukan sekadar kehilangan wilayah administratif, melainkan hilangnya masa depan industri strategis.
2. Penurunan PDRB dan Citra Ekonomi Daerah
Selama ini Luwu Raya menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi Sulsel. Pemekaran otomatis menurunkan angka PDRB provinsi induk, yang berdampak pada peringkat ekonomi regional, daya tawar terhadap pemerintah pusat, serta citra Sulsel sebagai provinsi besar di Indonesia Timur.
3. Penyusutan Dana Transfer dari Pusat
Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang dihitung berdasarkan luas wilayah, jumlah penduduk, dan kapasitas fiskal berpotensi menyusut signifikan. Ruang fiskal Pemprov Sulsel pun akan semakin terbatas pasca pemekaran.
4. Hilangnya Basis Politik dan Elektoral
Secara politik, Luwu Raya merupakan salah satu lumbung suara penting dalam pemilu legislatif, pilgub, hingga pilpres. Jika wilayah ini keluar dari Sulsel, peta elektoral berubah total. Banyak elite politik Sulsel yang selama ini bertumpu pada basis suara Luwu Raya akan kehilangan “mesin politik” strategis.
5. Melemahnya Pengaruh Geopolitik Sulsel di Indonesia Timur
Sebagai provinsi induk, Sulsel selama ini memegang peran sentral di kawasan timur Indonesia. Lepasnya Luwu Raya akan mengurangi luas wilayah, jumlah penduduk, serta kekuatan ekonomi, yang otomatis menurunkan daya tawar Sulsel di level nasional.
Sejumlah pengamat menilai faktor-faktor tersebut menjadi alasan mengapa Pemprov Sulsel cenderung pasif, bahkan terkesan menghindari pembahasan serius soal pemekaran Provinsi Luwu Raya—meski aspirasi itu telah bergulir lebih dari dua dekade.
“Jika Luwu Raya mekar, Sulsel bukan hanya kehilangan wilayah, tetapi juga kehilangan aset strategis. Ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan soal kekuasaan, uang, dan pengaruh,” ujar seorang akademisi di Makassar yang juga pengurus Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Kabupaten Maros, Dr. Ryan.
Di sisi lain, tokoh-tokoh Luwu Raya menilai sikap tersebut justru menguatkan dugaan bahwa penolakan diam-diam Pemprov Sulsel lebih didorong oleh ketakutan kehilangan kendali atas sumber daya alam dan sumber fiskal, bukan semata kepentingan rakyat.
“Jika memang demi keutuhan Sulsel, seharusnya pembangunan di Tana Luwu merata. Faktanya, ketimpangan justru menjadi alasan kuat kami ingin berdiri sendiri,” kata salah seorang tokoh Wija To Luwu.
Isu ini kembali menguat setelah Datu Luwu, Andi Maradang Machulau, secara terbuka menegaskan bahwa perjuangan membentuk Provinsi Luwu Raya bukanlah tindakan makar, melainkan upaya menagih janji negara yang tak kunjung ditepati.
Dengan tekanan politik yang terus meningkat dan moratorium Daerah Otonomi Baru (DOB) yang mulai dipertanyakan banyak pihak, Pemprov Sulsel kini berada di persimpangan: mempertahankan status quo, atau bersiap kehilangan salah satu wilayah paling strategis dalam sejarahnya.
JUM




















