JAKARTA — Jambore Nasional (Jamnas) XII Gerakan Pramuka telah berakhir. Namun, di balik kemeriahan kegiatan nasional yang mempertemukan puluhan ribu anggota Pramuka dari berbagai daerah, masih tersisa catatan mengenai tata kelola penyelenggaraan, terutama distribusi natura atau bahan makanan peserta.
Investigasi Metrosulsel.com menemukan adanya keluhan peserta dan pembina pendamping terkait mekanisme pembagian natura yang dinilai tidak berjalan efektif. Antrean panjang terjadi saat peserta mengambil bahan makanan. Sejumlah peserta bahkan harus menunggu berjam-jam hingga pelayanan selesai.
Keterangan yang dihimpun di lapangan menyebut antrean berlangsung sejak pagi hingga malam pada 13/8. Kondisi tersebut membuat peserta dan pembina pendamping harus menghabiskan waktu cukup lama di lokasi distribusi, sementara mereka juga memiliki agenda kegiatan yang telah dijadwalkan.
Persoalan semakin menjadi perhatian setelah muncul informasi mengenai bahan makanan tertentu yang sempat tidak tersedia dalam proses distribusi.
Kondisi tersebut menjadi catatan serius karena natura merupakan kebutuhan dasar peserta selama mengikuti Jamnas XII.
INFORMASI HONOR PANITIA DIKLARIFIKASI
Sebelumnya muncul informasi mengenai adanya perbedaan jumlah personel yang tercantum dalam SK kepanitiaan dengan jumlah personel yang bekerja di lapangan serta kabar bahwa sebagian panitia bekerja tanpa honor.
Namun, informasi tersebut kemudian diklarifikasi oleh sumber internal panitia yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Menurut sumber tersebut, persoalan honor memang sempat terlambat diinformasikan kepada sebagian panitia. Namun setelah penutupan Jamnas, tepatnya H+1, informasi mengenai distribusi honor telah diterima dan honor disebut telah didistribusikan kepada panitia, termasuk panitia tambahan.
Sumber internal itu menyebut terdapat dua kategori pembayaran berdasarkan SK kepanitiaan.
Panitia yang tercantum dalam SK pertama menerima Rp1.500.000, sedangkan panitia dalam SK kedua menerima Rp1.200.000.
“Memang agak telat informasi soal honor ini. Tapi H+1 penutupan saya dapat informasi sudah terdistribusi semua ke panitia, bahkan panitia tambahan. Rp1.500.000 untuk panitia SK pertama dan Rp1.200.000 untuk panitia SK kedua,” ujar sumber internal tersebut.
Dengan adanya klarifikasi itu, Metrosulsel.com mengoreksi informasi sebelumnya mengenai dugaan ribuan panitia yang bekerja tanpa honor. Persoalan honor tidak lagi menjadi fokus utama investigasi karena terdapat keterangan internal bahwa pembayaran telah dilakukan, termasuk kepada panitia tambahan.
NATURA TETAP MENJADI CATATAN
Klarifikasi mengenai honor panitia tidak menghapus persoalan lain dalam penyelenggaraan Jamnas XII.
Carut-marut distribusi natura tetap menjadi catatan yang perlu dievaluasi.
Jamnas XII berlangsung pada 12–20 Agustus 2026 dan diikuti 19.833 peserta dari 41 kontingen, dengan jumlah warga perkemahan mencapai hampir 25 ribu orang.
Dengan jumlah sebesar itu, sistem logistik seharusnya dirancang secara matang. Data peserta telah diketahui sebelum kegiatan berlangsung, sehingga kebutuhan bahan makanan, kapasitas gudang, jumlah petugas dan pola distribusi semestinya dapat dihitung secara terukur.
Namun keluhan peserta mengenai antrean panjang menunjukkan adanya persoalan antara perencanaan dengan pelaksanaan di lapangan.
LOGISTIK MENJADI UJIAN TATA KELOLA
Distribusi natura bukan sekadar persoalan teknis.Bahan makanan menyangkut kebutuhan dasar peserta. Ketika peserta harus mengantre berjam-jam, pelayanan logistik secara otomatis menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai kesiapan manajemen penyelenggara.
Persoalan tersebut semakin penting karena kegiatan berlangsung dalam skala nasional dengan jumlah peserta mencapai puluhan ribu orang.
Sistem distribusi semestinya mampu memecah konsentrasi peserta, mengatur jadwal pengambilan setiap kontingen, memastikan stok tersedia dan menghindari penumpukan di satu titik.
Jika sistem tersebut tidak berjalan efektif, peserta yang seharusnya mengikuti agenda pendidikan dan kegiatan kepramukaan justru tersita waktunya untuk mengurus kebutuhan logistik.
BIAYA BESAR, AKUNTABILITAS HARUS KUAT
Penyelenggaraan camp Jamnas XII diperkirakan mencapai tidak kurang dari Rp25 miliar berdasarkan perhitungan biaya yang dibebankan kepada peserta.
Dengan skala pembiayaan tersebut, tata kelola kegiatan semestinya dapat dipertanggungjawabkan secara transparan.
Evaluasi tidak hanya diperlukan terhadap distribusi natura, tetapi juga terhadap seluruh sistem logistik: mulai dari perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan barang, penyimpanan, pencatatan stok hingga distribusi kepada masing-masing kontingen.
Persoalan yang terjadi harus menjadi bahan perbaikan, bukan sekadar dianggap sebagai konsekuensi kegiatan besar.
SEKJEN KWARNAS SEBAGAI KETUA PANITIA
Sebagai Ketua Panitia Jamnas XII, Sekretaris Jenderal Kwartir Nasional Gerakan Pramuka memiliki posisi penting dalam memastikan seluruh sistem penyelenggaraan berjalan sesuai rencana.
Klarifikasi mengenai honor panitia telah memberikan gambaran bahwa persoalan pembayaran pada akhirnya telah diselesaikan. Karena itu, sorotan kini lebih tepat diarahkan kepada aspek yang masih menjadi keluhan peserta, khususnya tata kelola distribusi natura dan pelayanan logistik.
Evaluasi terhadap kepemimpinan kepanitiaan diperlukan agar kelemahan yang muncul selama Jamnas XII tidak kembali terjadi pada kegiatan nasional Gerakan Pramuka berikutnya.
Jamnas XII seharusnya meninggalkan pengalaman positif bagi peserta. Kegiatan nasional sebesar ini bukan hanya dinilai dari kemeriahan pembukaan, jumlah peserta atau rangkaian seremoni, tetapi juga dari kualitas pelayanan selama peserta berada di lokasi. Metrosulsel.com menilai persoalan distribusi natura harus menjadi salah satu agenda utama evaluasi Jamnas XII.
Laporan : JUM





















