• Box Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
Metro Sulsel
  • Home
  • Berita Lokal
  • Kriminal
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Sorotan
  • Kebudayaan
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Lokal
  • Kriminal
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Sorotan
  • Kebudayaan
No Result
View All Result
Metro Sulsel
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Lokal
  • Kriminal
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Sorotan
  • Kebudayaan
Home Peduli Lingkungan

KHF II DI MANGELoreng, MERAWAT KARST MAROS-PANGKEP LEWAT JEJAK DAN GOTONG ROYONG WARGA

jum007 by jum007
20 September 2026
in Peduli Lingkungan
KHF II DI MANGELoreng, MERAWAT KARST MAROS-PANGKEP LEWAT JEJAK DAN GOTONG ROYONG WARGA

MAROS — Karst Heritage Festival (KHF) II di Dusun Lopi-Lopi, Desa Mangeloreng, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, bukan sekadar festival. Selama tiga hari, 18–20 September 2026, kawasan karst menjadi ruang pertemuan masyarakat, peneliti, pelaku budaya, pemerintah, mahasiswa, komunitas, dan pegiat lingkungan untuk merawat pengetahuan, budaya, seni, sejarah, sekaligus lingkungan.

Mengusung tema “Hand and Foot Print”, KHF II mengajak masyarakat melihat kembali jejak panjang hubungan manusia dengan kawasan Karst Maros-Pangkep.

Jejak tangan dan kaki manusia prasejarah yang tertinggal di dinding gua menjadi simbol perjalanan tersebut. Namun, festival ini juga mendorong lahirnya jejak baru—jejak masyarakat hari ini dalam menjaga alam, merawat pengetahuan lokal, serta mempertahankan kebudayaan yang diwariskan lintas generasi.

Digelar di tengah kehidupan masyarakat Desa Mangeloreng, KHF II menjadi ruang belajar bersama. Berbagai kegiatan dirancang untuk memperkenalkan nilai penting kawasan karst dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan warga.

PELESTARIAN TUMBUH BERSAMA MASYARAKAT

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan, Iswadi Makaraka, mengatakan penyelenggaraan KHF II merupakan bagian dari proses panjang yang mendapat dukungan Dana Indonesiana–LPDP Kementerian Kebudayaan.

Menurutnya, kegiatan kebudayaan seperti KHF penting karena pengetahuan tentang warisan budaya tidak semestinya hanya berada di ruang akademik maupun institusi.

“Yang penting dari proses ini adalah bagaimana pelestarian kebudayaan dapat tumbuh bersama masyarakat, karena masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan dan warisan budaya itu sendiri,” ujar Iswadi.

WARGA MENJADI JANTUNG FESTIVAL

Keterlibatan warga Desa Mangeloreng menjadi bagian penting dalam pelaksanaan KHF II.

Warga tidak hanya hadir sebagai penonton. Mereka ikut menyiapkan ruang kegiatan, membantu penyelenggaraan, menyediakan kuliner, menampilkan kesenian tradisional hingga terlibat dalam aksi lingkungan.

Baca Juga:  Karang Taruna Maros Keroyok Krisis Air Bersih, 25 Tangki Siap Disalurkan ke Warga Pesisir

Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maros, Yusriadi Arif, yang hadir sekaligus membuka kegiatan, mengapresiasi kolaborasi tersebut.

“Kami mengapresiasi ide, gagasan, dan kerja keras panitia bersama masyarakat. KHF II bisa berjalan karena ada semangat untuk bahu-membahu dan keterlibatan banyak pihak,” ungkap Yusriadi.

Kepala Desa Mangeloreng, Muhammad Darwis, berharap semangat yang lahir dari festival tidak berhenti setelah rangkaian KHF II berakhir.

Ia berharap pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat menjadi modal untuk melanjutkan kegiatan pelestarian di desa.

“Kami berharap inisiatif KHF II yang sudah dilaksanakan di Desa Mangeloreng ini dapat diteruskan oleh warga bersama pemerintah desa. Kami juga berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun di desa, sehingga manfaatnya semakin luas dan masyarakat semakin terlibat dalam menjaga potensi alam, budaya, dan warisan yang ada di Mangeloreng,” ujarnya.

Menurut Darwis, festival juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengenali kekayaan lingkungan dan budaya yang selama ini berada dekat dengan kehidupan mereka.

MENJAGA KARST, MENJAGA KEHIDUPAN

General Manager UNESCO Global Geopark Maros Pangkep, Dedi Irfan, menilai KHF II menjadi salah satu pendekatan berbasis masyarakat dalam memperluas pemahaman mengenai pentingnya kawasan geopark.

Pengetahuan tentang karst disampaikan melalui berbagai kegiatan yang dekat dengan kehidupan warga, mulai dari diskusi, praktik lingkungan, seni, permainan tradisional hingga aktivitas kebudayaan.

“Kami mengapresiasi kegiatan ini sebagai sebuah model pendekatan berbasis masyarakat yang efektif untuk penyebarluasan informasi. Pada saat yang sama, kegiatan seperti ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap proses revalidasi UNESCO Global Geopark Maros Pangkep,” kata Dedi.

Baca Juga:  Pemkab Maros Siapkan 3.000 Tangki Air untuk Atasi Kekeringan

Direktur Bumi Toala Indonesia, Basran Burhan, juga mengapresiasi masyarakat Desa Mangeloreng yang menjadi bagian penting dari proses tersebut.

“Terima kasih kepada seluruh pihak dan para kolaborator yang telah terlibat. Terutama kepada warga desa yang sejak awal membuka pintu bagi panitia, menerima berbagai kegiatan, dan menjadikan kampung ini sebagai ruang bersama untuk belajar tentang karst dan kebudayaan,” ujarnya.

Direktur Festival, Wa Ode Nur Ilmi Fauziah, menjelaskan KHF II bukan kegiatan yang hadir secara tiba-tiba selama tiga hari.

Menurutnya, festival merupakan puncak dari proses panjang berupa workshop, pertemuan, dialog, serta proses belajar bersama masyarakat.

“Prosesnya cukup panjang. Sebelum festival berlangsung, ada berbagai workshop persiapan, pertemuan, dan dialog intensif bersama masyarakat maupun para pihak. Jadi festival ini sebenarnya merupakan hasil dari proses belajar dan bekerja bersama yang sudah berjalan sejak tahap pra-event,” jelas Wa Ode Ilmi.

DARI SUNGAI, LEANG HINGGA PANGGUNG KAMPUNG

Jejak kolaborasi terlihat sejak hari pertama festival.

Rangkaian kegiatan diawali dengan donor darah bersama PMI Kabupaten Maros, pemeriksaan kesehatan gratis, perpustakaan keliling, serta aksi bersih sungai yang melibatkan warga dan peserta festival.

Mahasiswa Arkeologi Universitas Hasanuddin menghadirkan kuliah lapangan. Sementara sesi bincang komunitas membahas sejumlah isu, antara lain pengelolaan sampah, gerakan nir-sampah, ekosistem karst, peran pemuda dalam transmisi budaya, serta karst sebagai ruang kehidupan bersama.

Malam harinya, kampung berubah menjadi panggung kebudayaan. Angngaru, Tari Paduppa dan sejumlah pertunjukan komunitas mempertemukan seni tradisi dengan masyarakat dan pengunjung.

Pada hari kedua, peserta diajak menjelajahi sejumlah situs prasejarah di sekitar Desa Mangeloreng.

Baca Juga:  MAROS DARURAT SAMPAH, MASYARAKAT HARUS SADAR, PEMERINTAH WAJIB SIAPKAN SARANA

Diskusi publik digelar di ruang-ruang yang berdekatan dengan situs, membahas karst sebagai living heritage, publikasi hasil penelitian, advokasi lingkungan, seni cadas purba, artefak arkeologi hingga tantangan pelestarian kawasan.

Rangkaian kegiatan juga diisi workshop eksperimental pembuatan alat batu, permainan tradisional dan malam kebudayaan yang menampilkan Ganrang Bulo, Tari Mappadendang, Sinrilik serta teater kampung.

Isu lingkungan tidak berhenti sebagai bahan diskusi.

Tim nir-sampah melakukan pemilahan dan pencatatan sampah selama festival. Praktik tersebut menjadi bagian dari pembelajaran bahwa kegiatan publik dapat berjalan sembari membangun kesadaran terhadap tanggung jawab ekologis.

Memasuki hari ketiga, pembahasan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Peran perempuan, ketahanan pangan masyarakat karst, pelestarian spesies endemik, etnobotani, tanaman obat, sastra dan krisis ekologis hingga peluang ekowisata berbasis komunitas menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Ibu-ibu Desa Mangeloreng turut mengambil peran melalui kuliner tradisional Anggaru’ Dodoro.

Pengunjung juga diajak mengikuti workshop eksperimental gambar cadas menggunakan pewarna alami, eksplorasi ecoprint dan permainan tradisional.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pertunjukan seni dan berbagai ekspresi kebudayaan.

MENINGGALKAN JEJAK UNTUK GENERASI BERIKUTNYA

KHF II membawa pesan bahwa pelestarian karst tidak hanya berkaitan dengan batuan, gua, atau bentang alam, tetapi juga kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya.

Di balik bentang Karst Maros-Pangkep terdapat masyarakat yang hidup, berkarya, menjaga tradisi, merawat alam dan mewariskan pengetahuan.

Dari jejak manusia masa lalu hingga langkah masyarakat hari ini, KHF II berupaya memastikan bahwa jejak yang ditinggalkan bukan hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan karst untuk generasi berikutnya.

PACET

Share2Tweet1SendShareSend

Related Posts

Pak Lurah Leang-Leang Turun Langsung Padamkan Kebakaran Hutan di Perbatasan Maros-Pangkep
Peduli Lingkungan

Pak Lurah Leang-Leang Turun Langsung Padamkan Kebakaran Hutan di Perbatasan Maros-Pangkep

1 September 2026
Karang Taruna Maros Keroyok Krisis Air Bersih, 25 Tangki Siap Disalurkan ke Warga Pesisir
Peduli Lingkungan

Karang Taruna Maros Keroyok Krisis Air Bersih, 25 Tangki Siap Disalurkan ke Warga Pesisir

1 September 2026
Pemkab Maros Siapkan 3.000 Tangki Air untuk Atasi Kekeringan
Peduli Lingkungan

Pemkab Maros Siapkan 3.000 Tangki Air untuk Atasi Kekeringan

1 September 2026
MAROS DARURAT SAMPAH, MASYARAKAT HARUS SADAR, PEMERINTAH WAJIB SIAPKAN SARANA
Peduli Lingkungan

MAROS DARURAT SAMPAH, MASYARAKAT HARUS SADAR, PEMERINTAH WAJIB SIAPKAN SARANA

10 April 2026
Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
WARGA CAMBA MAROS DIHEBOHKAN ISU PENCURIAN UANG DAN DUGAAN MANUSIA JADI-JADIAN

WARGA CAMBA MAROS DIHEBOHKAN ISU PENCURIAN UANG DAN DUGAAN MANUSIA JADI-JADIAN

6 Oktober 2025
MANTAN KETUA DAN BENDAHARA KONI MAROS DITAHAN, KASUS DANA HIBAH 2016 DIDUGA RUGIKAN NEGARA RP500 JUTA

MANTAN KETUA DAN BENDAHARA KONI MAROS DITAHAN, KASUS DANA HIBAH 2016 DIDUGA RUGIKAN NEGARA RP500 JUTA

24 Februari 2026
LAYANGAN PUTUS TELAN KORBAN LAGI, PENERTIBAN JALAN BARU DIPERTANYAKAN

LAYANGAN PUTUS TELAN KORBAN LAGI, PENERTIBAN JALAN BARU DIPERTANYAKAN

24 September 2025
SKANDAL BUSUK DI MAROS: NAMA “H” MENCULAT, SKKPR & SITE PLAN DIDUGA JADI LADANG PUNGLI

SKANDAL BUSUK DI MAROS: NAMA “H” MENCULAT, SKKPR & SITE PLAN DIDUGA JADI LADANG PUNGLI

24 Maret 2026
Audit Macet, Penegakan Hukum Terjebak di Kominfo Maros

Audit Macet, Penegakan Hukum Terjebak di Kominfo Maros

1
Program Makan Bergizi di Indonesia: Capaian, Tantangan, dan Harapan ke Depan

Program Makan Bergizi di Indonesia: Capaian, Tantangan, dan Harapan ke Depan

0
Bocor Usulan Mutasi Pejabat Pemkot Makassar, Nama-Nama Sudah Beredar di Grup WhatsApp

Bocor Usulan Mutasi Pejabat Pemkot Makassar, Nama-Nama Sudah Beredar di Grup WhatsApp

0
Pemerintah Cabut Izin Tambang di Raja Ampat: Langkah Penting Lindungi Ekosistem Dunia

Pemerintah Cabut Izin Tambang di Raja Ampat: Langkah Penting Lindungi Ekosistem Dunia

0
KHF II DI MANGELoreng, MERAWAT KARST MAROS-PANGKEP LEWAT JEJAK DAN GOTONG ROYONG WARGA

KHF II DI MANGELoreng, MERAWAT KARST MAROS-PANGKEP LEWAT JEJAK DAN GOTONG ROYONG WARGA

20 September 2026
BAKRIE GROUP GALANG DONASI LEWAT LAGA SEPAK BOLA AMAL, LEGENDA TIMNAS TURUN LAPANGAN

BAKRIE GROUP GALANG DONASI LEWAT LAGA SEPAK BOLA AMAL, LEGENDA TIMNAS TURUN LAPANGAN

17 September 2026
ASN DINAS PERTANIAN MAROS, DUA KALI MANGKIR, RP80 JUTA MASIH MENGGANTUNG

ASN DINAS PERTANIAN MAROS, DUA KALI MANGKIR, RP80 JUTA MASIH MENGGANTUNG

15 September 2026
PURBAYA PERGI, RP120 TRILIUN MASIH MENGGANTUNG: SIAPA YANG PEGANG KENDALI UANG BUMN?

PURBAYA PERGI, RP120 TRILIUN MASIH MENGGANTUNG: SIAPA YANG PEGANG KENDALI UANG BUMN?

15 September 2026

Popular Stories

  • WARGA CAMBA MAROS DIHEBOHKAN ISU PENCURIAN UANG DAN DUGAAN MANUSIA JADI-JADIAN

    WARGA CAMBA MAROS DIHEBOHKAN ISU PENCURIAN UANG DAN DUGAAN MANUSIA JADI-JADIAN

    9133 shares
    Share 3653 Tweet 2283
  • MANTAN KETUA DAN BENDAHARA KONI MAROS DITAHAN, KASUS DANA HIBAH 2016 DIDUGA RUGIKAN NEGARA RP500 JUTA

    2232 shares
    Share 893 Tweet 558
  • LAYANGAN PUTUS TELAN KORBAN LAGI, PENERTIBAN JALAN BARU DIPERTANYAKAN

    2076 shares
    Share 830 Tweet 519
  • SKANDAL BUSUK DI MAROS: NAMA “H” MENCULAT, SKKPR & SITE PLAN DIDUGA JADI LADANG PUNGLI

    2017 shares
    Share 807 Tweet 504
  • Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pembakaran Perlengkapan Ibadah di Masjid Maros

    1679 shares
    Share 672 Tweet 420
KHF II DI MANGELoreng, MERAWAT KARST MAROS-PANGKEP LEWAT JEJAK DAN GOTONG ROYONG WARGA
Peduli Lingkungan

KHF II DI MANGELoreng, MERAWAT KARST MAROS-PANGKEP LEWAT JEJAK DAN GOTONG ROYONG WARGA

by jum007
20 September 2026
0

MAROS -- Karst Heritage Festival (KHF) II di Dusun Lopi-Lopi, Desa Mangeloreng, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, bukan sekadar festival. Selama...

Read more
BAKRIE GROUP GALANG DONASI LEWAT LAGA SEPAK BOLA AMAL, LEGENDA TIMNAS TURUN LAPANGAN

BAKRIE GROUP GALANG DONASI LEWAT LAGA SEPAK BOLA AMAL, LEGENDA TIMNAS TURUN LAPANGAN

17 September 2026
ASN DINAS PERTANIAN MAROS, DUA KALI MANGKIR, RP80 JUTA MASIH MENGGANTUNG

ASN DINAS PERTANIAN MAROS, DUA KALI MANGKIR, RP80 JUTA MASIH MENGGANTUNG

15 September 2026
PURBAYA PERGI, RP120 TRILIUN MASIH MENGGANTUNG: SIAPA YANG PEGANG KENDALI UANG BUMN?

PURBAYA PERGI, RP120 TRILIUN MASIH MENGGANTUNG: SIAPA YANG PEGANG KENDALI UANG BUMN?

15 September 2026
HMI CABANG MAROS DESAK PLN BUKA DATA PEMADAMAN, KAJI KOMPENSASI BAGI MASYARAKAT TERDAMPAK

HMI CABANG MAROS DESAK PLN BUKA DATA PEMADAMAN, KAJI KOMPENSASI BAGI MASYARAKAT TERDAMPAK

15 September 2026
No Result
View All Result
  • Box Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy

© 2025 metrosulsel.com Metrosulsel.com, referensi berita terpercaya dengan informasi aktual, tajam, dan mendalam untuk pembaca di Sulawesi Selatan dan Indonesia.