Ket Foto : Waka Humas & Info bersama Ketua Kwarrang Cenrana
MAROS — Penguatan kelembagaan menjadi salah satu fokus Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Maros tahun 2026 untuk memastikan organisasi tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga aktif menjalankan pembinaan hingga ke tingkat Gugus Depan (Gudep).
Di bawah kepemimpinan Ketua Kwarcab Maros, H.A. Muetazim Mansyur, penguatan organisasi akan menyasar sejumlah lini strategis, mulai dari Kwartir Ranting (Kwarran), Majelis Pembimbing Ranting (Mabiran), hingga Satuan Karya Pramuka (Saka) dan pangkalannya. Kwarran dan Mabiran yang telah dilantik didorong menjadi ujung tombak Gerakan Pramuka di tingkat kecamatan.
Keduanya diharapkan aktif membangun koordinasi dan pembinaan yang bersentuhan langsung dengan Gugus Depan yang berada di sekolah maupun satuan pendidikan lainnya, selepas kegiatan Jambore Nasional di Cibubur Tahun 2026 ini.
Namun, penguatan organisasi tidak berhenti di Kwarran. Kwarcab Maros juga akan mendorong penguatan kelembagaan Saka, termasuk Pimpinan Saka, pangkalan Saka hingga mengaktifkan kembali peran Dewan Saka sebagai ruang kaderisasi dan pengembangan keterampilan anggota Pramuka Penegak dan Pandega.
Wakil Ketua Humas dan Informasi Kwarcab Maros, Jumadi, menegaskan penguatan kelembagaan harus dibarengi dengan aktivitas nyata, salah satunya yang telah dilantik kepengurusannya Saka Bhayangkara, yang bisa menjadi motivasi Saka lain untuk begerak.
“Jangan sampai organisasi hanya kuat di struktur, tetapi lemah dalam aktivitas. Pelantikan adalah awal, bukan akhir. Setelah dilantik, semua harus bergerak dan bekerja,” tegas Jumadi.
Menurutnya, pengembangan kegiatan Saka juga membutuhkan dukungan pembiayaan yang berkelanjutan. Sumber pendanaan tidak hanya diharapkan berasal dari hibah, tetapi juga dapat dioptimalkan melalui sinergi dengan perangkat daerah atau dinas terkait yang memiliki keterkaitan langsung dengan bidang pembinaan masing-masing Saka.
“Potensi dukungan pembiayaan tidak hanya dari hibah. Ada peluang sinergi program dengan dinas atau perangkat daerah yang memiliki keterkaitan dengan bidang Saka masing-masing. Tentu semuanya harus dilakukan sesuai aturan, mekanisme penganggaran dan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Jumadi mencontohkan, Saka yang bergerak pada bidang tertentu dapat membangun koordinasi dan kolaborasi program dengan perangkat daerah yang memiliki tugas dan fungsi yang relevan. Dengan demikian, kegiatan pembinaan dapat dikembangkan melalui program yang selaras dengan kebutuhan organisasi sekaligus mendukung program pemerintah daerah.
“Yang kita dorong adalah sinergi program. Saka tidak boleh berjalan sendiri. Dinas terkait yang memiliki irisan program dengan bidang Saka dapat menjadi mitra strategis dalam pembinaan, sepanjang mekanisme dan ketentuan penganggarannya dipenuhi,” katanya.
Ia menilai, potensi tersebut perlu dipetakan secara baik oleh masing-masing Pimpinan Saka dan pangkalan. Program kegiatan harus disusun secara terukur sehingga dapat ditawarkan sebagai bagian dari kolaborasi pembinaan kepemudaan dan peningkatan keterampilan generasi muda.
“Jadi, jangan berpikir sumber anggaran hanya satu pintu. Potensinya ada dari hibah, dukungan program pemerintah, kemitraan dan sumber lain yang sah. Yang penting programnya jelas, perencanaannya matang, dan seluruh pengelolaannya transparan serta sesuai aturan,” ujar Jumadi.
Menurutnya, penguatan Saka harus menjadi gerakan bersama. Pimpinan Saka bertugas menggerakkan organisasi, pangkalan menjadi ruang aktivitas, sementara Dewan Saka harus diberi ruang untuk berproses dan mengembangkan kepemimpinan.
“Kita ingin Saka benar-benar hidup. Bukan hanya ada namanya, tetapi ada kegiatannya, ada kaderisasinya, ada pembinaan keterampilannya, dan ada manfaat yang dirasakan anggota yang satu dengan yang lainya secara merata”Tegasnya.
Jumadi menambahkan, penguatan kelembagaan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun rantai pembinaan Gerakan Pramuka yang solid, mulai dari Kwarcab, Kwarran, Mabiran, Saka, pangkalan Saka hingga Gugus Depan.
“Kita tidak ingin Pramuka hanya ramai saat pelantikan atau seremoni. Ukuran keberhasilan organisasi adalah seberapa aktif kegiatan berjalan, seberapa kuat pembinaan di Gugus Depan, dan seberapa banyak kader muda yang lahir dari proses tersebut, dengan catatan kaderisasi tidak dimonopoli oleh sebatas kader tertentu” pungkasnya.
TIM HUMAS & INFO





















