JAKARTA — Peringatan Hari Pramuka ke-65 pada 14 Agustus 2026 bukan sekadar seremoni tahunan. Pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir yang mewakili Presiden Prabowo Subianto membuka sinyal perubahan besar terhadap posisi Gerakan Pramuka dalam sistem pendidikan nasional.
Di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur, Erick menyampaikan pesan Presiden bahwa Pramuka tidak boleh lagi dipandang semata sebagai kegiatan ekstrakurikuler, tetapi harus menjadi bagian penting dari pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
Pernyataan itu menjadi penting karena selama ini kegiatan kepramukaan di banyak sekolah masih ditempatkan sebagai aktivitas pendamping pendidikan formal. Jika arah kebijakan tersebut benar-benar diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan nasional, maka Pramuka berpotensi mengalami perubahan posisi: dari kegiatan pilihan menjadi instrumen pembentukan karakter yang terintegrasi dengan proses pendidikan.
DARI EKSTRAKURIKULER MENJADI INSTRUMEN PENDIDIKAN KARAKTER
Perubahan paling mendasar terletak pada cara negara memandang Pramuka.
Pendidikan formal selama ini sangat kuat pada aspek akademik. Namun karakter seperti disiplin, kepemimpinan, keberanian mengambil keputusan, kemampuan bekerja sama, kepedulian sosial dan ketangguhan tidak cukup dibentuk melalui ruang kelas.
Erick bahkan menekankan bahwa karakter tidak terbentuk dalam satu hari dan tidak cukup hanya melalui pembelajaran di dalam kelas. Karakter membutuhkan latihan, pengalaman, keteladanan dan lingkungan yang baik sejak sekolah hingga perguruan tinggi.Di titik inilah metode kepramukaan memiliki ruang yang besar.
Pramuka pada dasarnya memiliki laboratorium pendidikan yang berbeda dengan sekolah. Peserta didik belajar melalui kegiatan lapangan, kerja kelompok, pengabdian, keterampilan, kepemimpinan dan penyelesaian persoalan secara langsung.
Karena itu, jika pemerintah ingin menjadikan Pramuka sebagai bagian lebih penting dalam pendidikan nasional, tantangannya bukan sekadar menambah jam kegiatan Pramuka. Tantangannya adalah memastikan metode pendidikan kepramukaan benar-benar memiliki kualitas dan relevansi dengan kebutuhan generasi muda.
KETAHANAN PANGAN: PRAMUKA MASUK KE RUANG PRODUKTIF
Arah kedua yang mulai terlihat adalah keterlibatan Pramuka dalam agenda ketahanan dan swasembada pangan.
Kwarnas menyatakan siap memanfaatkan jaringan lebih dari 450 ribu gugus depan di seluruh Indonesia untuk mendukung program swasembada pangan pemerintah.
Jika dikelola dengan tepat, ini dapat menjadi perubahan penting. Pramuka tidak harus diarahkan menjadi tenaga pertanian. Sebaliknya, pendidikan kepanduan dapat digunakan untuk memperkenalkan generasi muda kepada persoalan pangan: bagaimana menghasilkan makanan, menjaga lingkungan, mengelola lahan, memahami rantai produksi, mengurangi pemborosan pangan hingga mengenal teknologi pertanian.
Dengan demikian, ketahanan pangan tidak berhenti sebagai slogan dalam upacara. Gudep dapat menjadi ruang pembelajaran sederhana melalui kebun sekolah, hidroponik, pembibitan, pengelolaan lingkungan, peternakan kecil, pengolahan pangan dan kegiatan kewirausahaan berbasis potensi lokal.
DARI SD HINGGA PERGURUAN TINGGI
Pernyataan pemerintah juga membuka kemungkinan arah pendidikan kepanduan yang lebih berjenjang.Pada tingkat sekolah dasar, Pramuka dapat ditekankan pada pembentukan kebiasaan dasar: disiplin, kerja sama, kemandirian dan kepedulian. Pada tingkat menengah, materi dapat berkembang menuju kepemimpinan, keterampilan hidup, lingkungan, kebencanaan, teknologi dan kewirausahaan.
Sementara pada perguruan tinggi, pendekatannya tentu tidak bisa disamakan dengan peserta didik usia sekolah. Mahasiswa dapat diarahkan pada kepemimpinan sosial, pengabdian masyarakat, inovasi, kewirausahaan, ketahanan pangan, mitigasi bencana dan penyelesaian persoalan masyarakat.
Artinya, jika konsep ini diterapkan, Pramuka harus berhenti berpikir dengan pola kegiatan yang sama untuk semua jenjang pendidikan. Metodenya harus berkembang sesuai usia, kebutuhan dan tantangan generasi.
GEN Z DAN GENERASI SETELAHNYA
Ada tantangan lain yang jauh lebih besar: bagaimana membuat Pramuka relevan bagi generasi yang tumbuh bersama internet, kecerdasan buatan, media sosial dan perubahan teknologi yang sangat cepat.Karena itu, revitalisasi Pramuka tidak boleh sekadar mengganti seragam atau membuat kegiatan lebih banyak.
Yang harus diperbarui adalah cara mendidiknya. Nilai disiplin, gotong royong, tanggung jawab dan kepemimpinan tetap dipertahankan. Tetapi metode penyampaiannya harus mengikuti zaman.
Pramuka masa depan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya mampu mendirikan tenda, tetapi juga mampu bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, memahami lingkungan, memiliki kemampuan bertahan hidup dan mampu memberi solusi bagi masyarakat.
PERTANYAAN BESARNYA: BAGAIMANA TEKNISNYA?
Di sinilah bagian yang belum terjawab.
Ketika ditanya mengenai teknis pelaksanaan, Erick Thohir belum memberikan skema rinci dan menyatakan persoalan teknis akan dikaji serta dibahas lebih lanjut.
Pernyataan tersebut justru menunjukkan bahwa perubahan ini masih membutuhkan pekerjaan besar di tingkat kebijakan. Sebab, menjadikan Pramuka sebagai bagian lebih kuat dalam pendidikan nasional tidak cukup hanya dengan keputusan politik. Harus ada pembagian kewenangan yang jelas antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kemenpora, Kwarnas, pemerintah daerah hingga satuan pendidikan.
Kemenpora sendiri menyebut perlunya sinergi lintas kementerian untuk memperkuat pendidikan karakter melalui Gerakan Pramuka. Persoalan lain juga menunggu: kurikulum, tenaga pembina, pembiayaan, sarana kegiatan, beban guru, model evaluasi, perlindungan peserta didik dan bentuk keterlibatan perguruan tinggi.
Jangan sampai perubahan status Pramuka hanya menghasilkan kewajiban baru bagi sekolah tanpa diikuti kesiapan sumber daya manusia dan sistem pembinaan.
JANGAN SAMPAI PRAMUKA KEHILANGAN JIWANYA
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.
Semakin besar negara memberikan ruang kepada Pramuka, semakin besar pula tanggung jawab organisasi untuk menjaga jati dirinya.Pramuka bukan sekadar instrumen program pemerintah. Ia memiliki nilai dasar pendidikan kepanduan: pembentukan karakter melalui pengalaman, keteladanan, kegiatan bersama dan pengabdian.
Karena itu, ketika Pramuka diarahkan mendukung ketahanan pangan, pendidikan karakter atau Indonesia Emas 2045, jangan sampai kegiatan kepanduan berubah menjadi sekadar pelaksana program pemerintah.
Program pemerintah boleh menjadi ruang pengabdian. Tetapi metode kepramukaan harus tetap menjadi jiwa pendidikannya.
MOMENTUM REFORMASI PRAMUKA
Pernyataan Presiden yang disampaikan Erick Thohir pada Hari Pramuka ke-65 dapat dibaca sebagai sinyal bahwa pemerintah ingin menempatkan kepanduan pada posisi yang lebih strategis dalam pembangunan manusia.
Kwarnas sendiri menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah menuju Pramuka yang lebih terstruktur dalam sistem pendidikan nasional. Namun, keberhasilan gagasan itu tidak akan ditentukan oleh pidato.
Ia akan ditentukan oleh desain kebijakan yang konkret. Apakah Pramuka benar-benar akan menjadi ruang pendidikan karakter yang hidup, atau hanya berubah status administratif?
Itulah pertanyaan yang harus dijawab pemerintah dan Kwarnas pada tahap berikutnya.
Sebab, menjadikan Pramuka lebih besar dalam sistem pendidikan nasional berarti bukan sekadar memperbesar organisasi.
Yang harus diperbesar adalah kualitas pembinaannya, relevansi kegiatannya dan manfaatnya bagi generasi muda Indonesia.
Jika berhasil, Pramuka dapat bergerak dari sekadar kegiatan setelah jam pelajaran menjadi salah satu laboratorium pendidikan karakter terbesar di Indonesia.Tetapi jika tidak disiapkan dengan matang, perubahan itu justru berisiko menjadikan Pramuka sebagai kewajiban administratif baru di sekolah.
Hari Pramuka ke-65, dengan demikian, bukan hanya tentang merayakan perjalanan 65 tahun. Ini bisa menjadi titik awal untuk menentukan seperti apa wajah Gerakan Pramuka dalam 20 tahun ke depan.
Laporan : JUM





















