MAROS — Kelangkaan solar di sejumlah SPBU di Kabupaten Maros mulai memicu keresahan petani dan sopir truk lokal. Jika dalam sepekan ke depan pasokan solar untuk kebutuhan pertanian dan angkutan lokal tidak kunjung jelas, aksi penutupan jalan poros menuju Bone dan Pangkep disebut-sebut bisa terjadi.
Informasi tersebut disampaikan seorang sopir truk lokal, Andi, kepada Metrosulsel.com. Ia mengatakan, para petani dan sopir truk sudah cukup lama menghadapi kesulitan mendapatkan solar, sementara aktivitas mereka sangat bergantung pada ketersediaan BBM jenis tersebut.
“Kalau dalam sepekan ini solar tidak jelas dan SPBU selalu kosong, bisa saja petani dan sopir truk lokal turun melakukan aksi. Bahkan ada pembicaraan untuk menutup jalan poros arah Bone dan Pangkep,” ujar Andi kepada Metrosulsel.com.
Menurutnya, persoalan solar tidak hanya berdampak terhadap petani yang membutuhkan BBM untuk mengoperasikan pompa irigasi dan mesin pertanian, tetapi juga terhadap sopir truk lokal yang menggunakan kendaraan untuk mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat.
Andi berharap pemerintah daerah, Pertamina, dan pihak terkait segera mencari solusi sebelum keresahan tersebut berkembang menjadi aksi di lapangan.
“Jangan sampai masyarakat sudah benar-benar tidak bisa bekerja baru pemerintah bergerak. Petani butuh solar untuk mengairi sawah, sopir truk juga butuh solar untuk bekerja,” katanya.
Sebelumnya, kelangkaan solar juga dikeluhkan petani di Kecamatan Simbang. Ratusan hektare lahan pertanian yang mengandalkan pompa irigasi berbahan bakar solar disebut terancam mengalami gangguan pengairan hingga berisiko gagal panen.
Kondisi semakin sulit setelah SPBU Jawi-Jawi yang selama ini menjadi salah satu tempat petani memperoleh solar mendapat sanksi penghentian suplai dari Pertamina akibat temuan pelanggaran dalam penyaluran solar kepada kendaraan.
Sementara itu, barcode untuk kebutuhan pompa irigasi dan mesin pertanian yang diterbitkan Dinas Pertanian Maros disebut tidak dapat digunakan di sejumlah SPBU lainnya.
Bagi petani, persoalan ini menjadi ironi di tengah gencarnya pemerintah mendorong program ketahanan pangan. Sebab, produksi pertanian tidak hanya membutuhkan bibit dan pupuk, tetapi juga kepastian air dan energi untuk menggerakkan pompa irigasi.
Jika persoalan distribusi solar tidak segera diselesaikan, bukan hanya aktivitas sopir truk yang terganggu. Produksi pertanian di sejumlah wilayah Maros juga berpotensi terdampak.
Petani dan sopir truk kini menunggu satu hal: kepastian pasokan solar. Jika tidak ada solusi dalam waktu dekat, keresahan dikhawatirkan berubah menjadi aksi di jalan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Maros, Jamaluddin kepada Metrosulsel. Besok Senin 6/9 akan turun mengecek permasalahan di SPBU dan mencari solusi jalan keluarnya “Siap pak Insya Allah besok akan kami cari tau ke SPBU yang bersangkutan” kata dia.
JUM





















