MAROS — Kelangkaan LPG 3 kilogram dan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai dikeluhkan masyarakat di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Harga LPG di tingkat pengecer bahkan disebut mencapai Rp23 ribu per tabung.
Kelangkaan LPG 3 kilogram dinilai tidak lepas dari meningkatnya penggunaan tabung melon di luar peruntukan rumah tangga. Salah seorang agen/pengecer LPG 3 kilogram di Maros mengatakan, sebagian angkutan kota (angkot) kini beralih menggunakan LPG sebagai bahan bakar kendaraan.
Tak hanya itu, penggunaan LPG 3 kilogram juga disebut merambah sektor pertanian. Sejumlah petani menggunakan tabung gas untuk mengoperasikan pompa air atau mesin alkon guna memenuhi kebutuhan irigasi persawahan.
“Sebagian kendaraan angkot sudah menggunakan elpiji. Begitu juga pompa alkon petani banyak yang menggunakan tabung gas. Padahal LPG 3 kilogram seharusnya diperuntukkan bagi kebutuhan rumah tangga,” ujar sumber tersebut.
Kondisi ini membuat masyarakat yang benar-benar membutuhkan LPG untuk memasak ikut kesulitan mendapatkan tabung gas dengan harga sesuai ketentuan.
SOLAR TERKURAS TRUK LINTAS DAERAH
Persoalan serupa terjadi pada BBM jenis solar. Salah seorang manajer SPBU di Maros menyebut tingginya kebutuhan solar salah satunya dipengaruhi banyaknya truk ekspedisi antardaerah yang melintas dan mengisi BBM di wilayah Maros.
Truk-truk tersebut membawa muatan menuju sejumlah wilayah di Sulawesi, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.
Menurutnya, tidak sedikit kendaraan ekspedisi yang harus mengantre berjam-jam, bahkan berhari-hari di sejumlah SPBU di Maros untuk mendapatkan solar.
Para sopir mengaku memilih mengisi solar sebanyak mungkin di Maros karena setelah melewati wilayah tersebut, SPBU yang menyediakan solar semakin sulit ditemukan.
“Kalau sudah masuk daerah lain, solar susah ditemukan. Kalaupun ada SPBU yang menyediakan, harus antre lagi berhari-hari untuk mendapatkan giliran,” kata salah seorang sopir truk.
Situasi tersebut membuat Maros menjadi salah satu titik pengisian BBM yang sangat diandalkan oleh kendaraan angkutan lintas provinsi.
PETANI JADI TERDAMPAK
Di tengah tingginya kebutuhan solar untuk kendaraan ekspedisi, petani juga membutuhkan BBM tersebut untuk mengoperasikan pompa air dalam memenuhi kebutuhan irigasi persawahan.
Kondisi ini menjadi persoalan tersendiri bagi petani, terutama di tengah kemarau. Ketika solar sulit diperoleh, pompanisasi terancam terganggu dan pasokan air ke lahan pertanian ikut terdampak.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan evaluasi terhadap pola distribusi LPG 3 kilogram dan solar di Maros.
Pengawasan juga dinilai penting untuk memastikan LPG 3 kilogram tetap tepat sasaran bagi masyarakat yang berhak, sementara ketersediaan solar dapat mencukupi kebutuhan sektor pertanian dan transportasi tanpa menimbulkan antrean panjang.
Pemerintah juga diharapkan tidak hanya melihat persoalan ini sebagai masalah kelangkaan BBM dan LPG, tetapi menelusuri rantai distribusi, volume pasokan, jumlah kendaraan yang mengisi, serta potensi penggunaan BBM dan LPG bersubsidi di luar peruntukannya.
JUM





















