MAROS – Aroma kekecewaan menyeruak di tengah kerumunan warga yang memadati Lapangan Pallantikang, Maros. Harapan warga untuk mendapatkan sembako murah menjelang Ramadan 1447 H melalui program Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Maros, justru berujung pada temuan yang mengejutkan.
Label Murah yang Menipu?
Niat pemerintah daerah yang katanya ingin meringankan beban ekonomi rakyat di ambang bulan suci, kini dipertanyakan kredibilitasnya. Pantauan langsung di lokasi menunjukkan sebuah ironi besar: harga komoditas yang dijajakan di stand resmi Dinas Pertanian justru melambung tinggi, bahkan melampaui harga eceran di pasar tradisional maupun toko kelontong biasa.
Alih-alih menjadi oase di tengah naiknya harga pangan, kegiatan ini justru menuai sorotan tajam karena dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil. Warga yang datang dengan saku terbatas harus gigit jari saat mendapati kenyataan bahwa label “Pasar Murah” hanyalah slogan tanpa isi.
Misi Mulia yang Terdistorsi
Padahal, secara administratif, kegiatan ini memiliki tujuan strategis:
Penyangga Ekonomi: Membantu daya beli masyarakat menjelang Ramadan.
Stimulus UMKM: Menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
Stabilitas Harga: Menekan laju inflasi daerah.
Namun, fakta di lapangan berbicara lain.
Selisih harga yang signifikan di atas harga pasar umum memicu spekulasi negatif di kalangan pengunjung.
Program yang dibiayai atau difasilitasi oleh negara ini justru terlihat seperti “pasar komersial” yang mencari untung di tengah kesulitan warga.
“Ini judulnya saja yang Pasar Murah, tapi harganya mencekik. Kami datang ke sini berharap ada selisih harga seribu atau dua ribu lebih murah dari pasar, ternyata di sini malah lebih mahal.
Ini mau bantu rakyat atau mau cari untung di lapangan?” cetus salah seorang ibu rumah tangga dengan nada geram.
Dinas Pertanian Maros Bungkam
Ketidaksesuaian harga ini menjadi catatan merah bagi kinerja Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Maros. Fasilitas negara yang digunakan di Lapangan Pallantikang Selasa, (10/02/2026).
seharusnya menjadi jaminan bahwa harga yang ditawarkan berada di bawah harga pasar, bukan justru menjadi ajang transaksi yang memberatkan.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak Dinas Pertanian Maros masih memilih bungkam dan belum memberikan klarifikasi resmi terkait mengapa harga di “Pasar Murah” tersebut bisa “offside” dari harga standar pasar umum.
Warga kini mendesak adanya evaluasi total agar kegiatan serupa tidak hanya menjadi seremonial belaka yang mengabaikan nasib rakyat kecil.
HAMZAN/ARFAH





















