ENREKANG — Udara sejuk lereng perbukitan Kecamatan Curio tak hanya membawa aroma tanah basah, tetapi juga wangi khas susu kerbau yang diolah menjadi Dangke—pangan tradisional yang telah lama menjadi identitas lokal. Di Dusun Rogo, Desa Sumbang, potensi besar itu kini mulai disentuh inovasi.
Kesunyian dusun mendadak hidup. Diskusi hangat dan tawa pecah ketika Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Sulawesi Selatan bersama Generasi Milenial Independen Indonesia (Gemini) turun langsung dalam program pengabdian masyarakat yang menyasar sektor ekonomi berbasis tradisi.
Mendengar Langsung Suara Pelaku Dangke
Nurjannah, penggerak Gemini Indonesia sekaligus penanggung jawab Cahaya Ladara Nusantara Enrekang, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial.
“Kami datang bukan untuk seremoni. Kami ingin melihat langsung proses memerah susu kerbau, pembuatan Dangke, hingga mendengar sendiri tantangan yang dihadapi para pelaku,” ujar perempuan yang akrab disapa Jhane.
Ia menilai, Kecamatan Curio memiliki potensi besar yang selama ini belum tergarap maksimal. Dengan pendampingan yang tepat, produk lokal seperti Dangke diyakini mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Akademisi Turun Gunung, Teori Bertemu Realitas
Dosen IPDN Sulawesi Selatan, Dr. Jamaruddin, menegaskan bahwa keterlibatan pihak kampus merupakan bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi.
“Kami tidak hanya bicara teori di ruang kelas. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian harus menyentuh langsung masyarakat,” jelasnya.
Dalam kegiatan ini, para akademisi memberikan edukasi terkait peningkatan kualitas produksi, efisiensi proses, hingga standar mutu tanpa menghilangkan nilai tradisional Dangke itu sendiri.
Dorongan Kolaborasi Berkelanjutan
Komitmen keberlanjutan ditegaskan oleh Julia Putri Noor SE, Founder JPN. Ia mengingatkan bahwa program seperti ini tidak boleh berhenti pada kegiatan sesaat.
“Ini bukan sekadar pelatihan. Harus ada keberlanjutan agar benar-benar berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, Dangke Enrekang memiliki peluang besar untuk naik kelas menjadi komoditas unggulan, asalkan didukung manajemen usaha yang lebih profesional dan strategi pemasaran yang tepat.
Dari Desa untuk Dunia
Program yang dijadwalkan berakhir pada 10 April ini meninggalkan lebih dari sekadar kegiatan. Ada harapan yang mulai tumbuh di tengah para peternak dan pengrajin Dangke.
Kolaborasi antara akademisi, generasi muda, dan masyarakat lokal diyakini menjadi kunci. Dari dapur sederhana di Dusun Rogo, Dangke perlahan diproyeksikan bukan hanya sebagai makanan tradisional, tetapi sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Kini, “keju khas Enrekang” itu tak lagi sekadar konsumsi lokal. Ia sedang disiapkan untuk melangkah lebih jauh menuju pasar nasional, bahkan menembus panggung global.
UCU





















