JAKARTA — Wakil Menteri Transmigrasi RI, Viva Yoga Mauladi, menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi fokus utama dalam pembangunan kawasan transmigrasi sebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Hal itu disampaikan saat menerima audiensi Pengurus Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) di kantor Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut hadir Ketua Umum ILUNI, Pramudya A. Oktavinanda, SH, LLM, Ph.D, beserta jajaran pengurus, antara lain Ketua Bidang Network dan Alumni Muhammad Adnan, Wakil Ketua Network dan Alumni Hari Prasetyo, Ketua Bidang Empowerment dan Advocacy Maria Ursula, serta perwakilan Strategic Communication Mediya Tri Aditya.
Paradigma Baru Transmigrasi: Dari Redistribusi Penduduk ke Pembangunan Ekosistem Ekonomi
Viva Yoga menjelaskan bahwa transmigrasi kini tidak lagi sekadar memindahkan penduduk dari wilayah padat penduduk ke daerah yang kurang penduduk. Program transmigrasi telah berevolusi menjadi pembangunan kawasan ekonomi baru yang terintegrasi untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Transmigrasi bukan lagi semata program sosial, tetapi strategi ekonomi bangsa,” ujar Viva Yoga, yang juga merupakan alumni Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI).
Menurutnya, paradigma baru transmigrasi menekankan penciptaan nilai tambah melalui ekosistem kehidupan dan ekosistem ekonomi yang terintegrasi, bukan sekadar penyediaan hunian bagi warga transmigran.
Delapan Transformasi Transmigrasi
Kementerian Transmigrasi saat ini mengusung delapan transformasi utama dalam pembangunan kawasan transmigrasi, antara lain:
-
Edukasi untuk menghadirkan SDM terdidik dan terlatih.
-
Gotong royong berbasis kekeluargaan.
-
Pengelolaan lahan berbasis zoning.
-
Industrialisasi melalui proses produksi skala besar.
-
Mekanisasi dengan peralatan modern.
-
Diversifikasi produk unggulan sesuai potensi wilayah.
-
Hilirisasi hasil produksi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi.
-
Digitalisasi akses informasi demi pengembangan kawasan transmigrasi.
Program Transmigrasi Patriot: Dorong SDM Unggul Melalui Riset dan Pendidikan Tinggi
Viva Yoga memaparkan bahwa peningkatan kualitas SDM transmigrasi menjadi prioritas. Berdasarkan data Kementrans, tingkat pendidikan warga transmigrasi masih didominasi lulusan SD (30,96%), SMP (21,13%), dan SMA (42,26%).
Untuk menjawab tantangan ini, Kementrans mengembangkan Program Transmigrasi Patriot, yang bertujuan menghadirkan SDM unggul melalui riset, pendampingan, serta kegiatan sosial-ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tahap pertama dilakukan dengan mengirim Tim Ekspedisi Patriot (TEP) ke 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Tim beranggotakan sekitar 2.000 peneliti yang terdiri dari guru besar, mahasiswa S1, S2, dan S3 dari tujuh perguruan tinggi nasional (UI, UGM, IPB, ITB, Undip, Unpad, dan ITS) serta 17 perguruan tinggi daerah seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Cenderawasih, Universitas Tadulako, hingga Universitas Gorontalo.
“Mereka melakukan riset tentang potensi unggulan dan pelembagaan ekonomi yang tepat untuk kawasan transmigrasi,” kata Viva Yoga. Program ini berlangsung dari Agustus hingga Desember 2025.
Pada tahap lanjutan, Kementrans akan meluncurkan Program Beasiswa Patriot, yang menargetkan 1.000 mahasiswa untuk mengikuti pendidikan S2 dan S3 melalui skema pembelajaran jarak jauh di kampus unggulan dalam dan luar negeri. Penerima beasiswa akan ditempatkan langsung di kawasan transmigrasi untuk mengaplikasikan ilmu dan melakukan pengembangan potensi lokal.
SDM Sebagai Penggerak Ekonomi Kawasan
Viva Yoga menegaskan bahwa Transmigrasi Patriot merupakan jembatan strategis antara kekuatan modal dan kebutuhan masyarakat.
“Kita bangun SDM di kawasan transmigrasi untuk mendorong eskalasi pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas akademik seperti ILUNI, Wamen berharap pembangunan kawasan transmigrasi dapat mempercepat pembangunan ekonomi daerah sekaligus menghadirkan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.























