JAKARTA — Kekhawatiran akan potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga kembali mencuat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia. Sejumlah lembaga internasional dan tokoh global menilai risiko konflik berskala besar memang meningkat, meski belum mengarah pada perang dunia dalam waktu dekat.
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya menyampaikan bahwa kondisi global saat ini memiliki kemiripan dengan periode menjelang Perang Dunia I dan II. Ia menilai eskalasi konflik regional, rivalitas negara besar, serta melemahnya diplomasi internasional dapat memicu krisis yang lebih luas jika tidak segera dikelola.
World Economic Forum (WEF) dalam laporan risiko global terbarunya menempatkan konflik geopolitik dan geoekonomi sebagai ancaman terbesar terhadap stabilitas dunia dalam dua hingga lima tahun ke depan. Ketegangan dagang, sanksi ekonomi, dan persaingan teknologi strategis dinilai memperbesar potensi konflik terbuka.
Sementara itu, Bank of England juga memperingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik kini menjadi salah satu faktor utama yang mengancam stabilitas sistem keuangan global.
Sejumlah titik rawan konflik dunia yang terus dipantau antara lain perang Rusia–Ukraina, ketegangan Iran–Israel di Timur Tengah, rivalitas Amerika Serikat–China di kawasan Indo-Pasifik, serta situasi di Semenanjung Korea. Para analis menilai konflik-konflik tersebut berpotensi meluas jika terjadi kesalahan kalkulasi militer atau kegagalan diplomasi.
Meski demikian, sebagian besar pakar menegaskan dunia belum berada di ambang Perang Dunia Ketiga. Keberadaan senjata nuklir sebagai alat pencegah, ketergantungan ekonomi antarnegara, serta jalur diplomasi yang masih aktif dinilai menjadi faktor penahan terjadinya perang global.
Para pengamat mengingatkan bahwa situasi global saat ini berada dalam fase rawan konflik, sehingga kewaspadaan kolektif dan penguatan diplomasi internasional menjadi kunci utama untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
JUM





















