JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) anjlok tajam menyusul gelombang aksi demonstrasi besar-besaran yang melanda Jakarta dan sejumlah daerah lain di Indonesia. Sentimen negatif akibat kerusuhan memicu kepanikan di pasar keuangan, membuat investor asing menarik modalnya, dan memaksa Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi besar-besaran untuk menahan pelemahan.
Menurut data google.com terhadap nilai tukar rupiah Minggu 31/8 berada di angkat Rp16.435,65 per USD, sementara sumber Reuters pada Jumat, 29 Agustus 2025, rupiah ditutup melemah hampir 1% dan menembus level Rp16.499,50 per dolar AS, terendah sejak awal Agustus. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi hingga 2,1% di akhir perdagangan, sementara capital outflow mencapai Rp2,3 triliun hanya dalam sehari.
Gejolak Demo dan Efek Domino ke Pasar
Gelombang aksi massa terjadi sejak Kamis (28/8) menyusul tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, dalam bentrokan dengan kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Aksi solidaritas kemudian merebak ke berbagai kota besar, termasuk Makassar, Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Surabaya. Banyak titik strategis lumpuh, termasuk halte TransJakarta yang dibakar, kantor DPRD Makassar yang ludes, hingga pos polisi di beberapa kota dibakar massa.
“Pasar tidak menyukai ketidakpastian. Demonstrasi yang meluas meningkatkan risiko politik, memicu aksi jual saham, dan pelepasan rupiah oleh investor asing,” ujar analis pasar uang Ariston Tjendra kepada Financial Times (29/8/2025).
Sementara itu, Bloomberg Asia Index mencatat bahwa tekanan jual besar-besaran pada sektor perbankan dan properti menjadi faktor utama anjloknya IHSG. Investor menilai kondisi keamanan domestik berpotensi memengaruhi daya beli, pertumbuhan ekonomi, dan arus modal jangka pendek.
Bank Indonesia Turun Tangan
Menanggapi gejolak pasar, Bank Indonesia melakukan langkah darurat dengan intervensi ganda di pasar valuta asing dan pasar obligasi pemerintah.
“Kami memastikan stabilitas rupiah tetap terjaga melalui triple intervention, baik di spot market, DNDF, maupun pembelian SBN,” kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers darurat di Jakarta, Jumat (29/8/2025).
Destry menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan cadangan devisa mencapai USD 144,8 miliar, cukup untuk menstabilkan nilai tukar jika tekanan berlanjut.
Pemerintah Serukan Ketertiban
Kondisi sosial yang memanas membuat pemerintah turun tangan. Presiden Prabowo Subianto dalam pernyataan resmi di Istana Negara, Jumat malam, menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga ketertiban dan menghentikan aksi anarkis.
“Saya memahami kekecewaan masyarakat, tetapi mari kita jaga keamanan dan persatuan. Pemerintah akan menindak tegas aparat yang bersalah dan mengusut tuntas kasus ini,” tegas Presiden Prabowo.
Sementara itu, Kementerian Koordinator Perekonomian menyebut pemerintah telah menyiapkan skema stimulus darurat untuk menjaga stabilitas harga pangan dan mengantisipasi potensi inflasi akibat pelemahan rupiah.
Proyeksi Pasar Pekan Depan
Analis memperkirakan, pelemahan rupiah masih akan berlanjut pada awal pekan depan jika ketegangan politik tidak mereda. Menurut laporan Liputan6.com, kurs rupiah berpotensi menembus level Rp16.520 per dolar AS bila demonstrasi terus berlangsung tanpa penyelesaian politik.
Ekonom senior David Sumual dari Bank Permata menyebut, “Kalau kondisi keamanan belum stabil, investor global akan terus menarik dananya. Potensi capital outflow bisa mencapai Rp10 triliun dalam dua pekan ke depan.”
Namun, bila pemerintah dan aparat berhasil mengendalikan situasi, rupiah diproyeksikan kembali ke kisaran Rp16.200–Rp16.250 per dolar dalam dua minggu.
Ringkasan Dampak Ekonomi
Faktor Dampak Sumber
Nilai tukar rupiah Melemah 0,90% → Rp16.499,50/USD Bisnis.com
IHSG Turun 2,1% di akhir perdagangan Bloomberg
Capital outflow Rp2,3 triliun dalam sehari Reuters
Intervensi BI Triple intervention di spot, DNDF, & SBN BI
Proyeksi pelemahan Bisa tembus Rp16.520/USD Liputan6
Potensi pemulihan Stabil di kisaran Rp16.200–Rp16.250 bila demo reda Permata Bank
Kesimpulan
Krisis sosial akibat demonstrasi besar di Jakarta dan daerah lain memicu kepanikan pasar, membuat rupiah tertekan, saham anjlok, dan investor asing menarik modalnya. Jika situasi keamanan tak segera dipulihkan, tekanan terhadap rupiah bisa semakin dalam, sementara risiko inflasi dan perlambatan ekonomi akan makin nyata.
Sumber : Reuters, Financial Times, Bisnis.com, Liputan6, dan Antara.