MAROS — Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Maros yang akan digelar Februari 2026 menjadi momentum penting bagi arah masa depan gerakan koperasi di daerah ini. Momentum lima tahunan tersebut dinilai bukan sekadar agenda seremonial pemilihan pengurus, melainkan titik balik menentukan orientasi dan keberpihakan Dekopinda terhadap kebutuhan riil koperasi anggota.
Pemerhati sekaligus pegiat koperasi Kabupaten Maros, Daeng Todjeng, dalam catatan reflektifnya, Kamis (12/2/2026), menekankan bahwa tantangan ekonomi yang semakin kompleks menuntut Dekopinda tampil lebih progresif, adaptif, dan solutif.
“Musda bukan hanya rutinitas organisasi, tetapi persimpangan jalan bagi gerakan koperasi Maros. Ke depan, Dekopinda harus hadir lebih dekat dengan anggota, terasa manfaatnya, dan mampu menjadi problem solver bagi koperasi-koperasi yang sedang menghadapi persoalan,” ujarnya.
Anggaran Harus Berpihak pada Anggota
Menurut Daeng Todjeng, roh koperasi adalah dari, oleh, dan untuk anggota. Prinsip tersebut seharusnya tercermin dalam postur anggaran Dekopinda ke depan. Ia mendorong diterapkannya konsep anggaran berbasis manfaat, di mana sebagian besar dana yang dihimpun dari iuran gerakan koperasi benar-benar kembali dirasakan oleh anggota.
“Bukan sekadar laporan administratif, tetapi diwujudkan dalam bentuk pelatihan berkualitas, sertifikasi kompetensi pengelola koperasi, serta pendampingan hukum bagi koperasi yang sedang bermasalah,” jelasnya.
Ia menilai pos operasional seharusnya ditempatkan secara proporsional, sementara anggaran pemberdayaan anggota perlu dimaksimalkan agar setiap rupiah iuran koperasi primer memiliki dampak nyata di lapangan.
Efisiensi dan Penajaman Prioritas Program
Selain soal anggaran, Daeng Todjeng juga menyoroti pentingnya efisiensi penggunaan sumber daya organisasi. Partisipasi dalam agenda nasional seperti Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) dinilai penting, namun harus ditempatkan secara proporsional.
“Ke depan, partisipasi seremonial sebaiknya dilakukan melalui delegasi terbatas namun efektif. Sumber daya organisasi lebih baik difokuskan pada kegiatan substantif di tingkat daerah yang menyentuh langsung ratusan pengurus koperasi di pelosok Maros,” katanya.
Kepemimpinan Kolektif, Bukan One Man Show
Dalam konteks kepemimpinan, ia menegaskan bahwa model kepemimpinan sentralistik sudah tidak relevan dengan tantangan zaman. Dekopinda ke depan diharapkan mengedepankan kerja kolektif melalui penguatan peran bidang-bidang serta optimalisasi fungsi para wakil ketua.
“Dekopinda membutuhkan super-team, bukan superman. Kepemimpinan harus mampu mengorkestrasi potensi seluruh pengurus agar bergerak bersama,” tegasnya.
Harapan untuk Dekopinda yang Melayani
Menutup refleksinya, Daeng Todjeng berharap Musda 2026 menjadi tonggak kebangkitan marwah koperasi di Maros sebagai soko guru perekonomian daerah. Ia mengajak seluruh insan koperasi menjadikan Dekopinda sebagai organisasi yang melayani kepentingan anggota, bukan sebaliknya.
“Siapapun yang terpilih nanti, harapan kami satu: jadikan Dekopinda rumah bersama yang benar-benar mengabdi pada penguatan koperasi rakyat,” pungkasnya.
Selamat bermusyawarah insan koperasi Maros. Mari jadikan Musda 2026 sebagai momentum memperkuat kembali peran koperasi dalam pembangunan ekonomi daerah.
ASIS





















