GOWA — Kabupaten Gowa dinilai berada pada titik kritis krisis ekologi akibat pembangunan yang tidak terkendali hingga ke level tapak. Kondisi ini disebut sebagai cerminan rusaknya relasi antara manusia dan lingkungan, yang berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana ekologis.
Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH), Achmad Yusran, menegaskan bahwa bencana bukan semata peristiwa alam, melainkan konsekuensi dari tata kelola ruang yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Alih fungsi lahan, tekanan penduduk, serta lemahnya pengendalian ruang disebut telah mengguncang sistem ekologis dari wilayah hulu hingga hilir.
“Krisis ekologi di Gowa menunjukkan bahwa kepentingan jangka pendek terus mengalahkan keselamatan jangka panjang. Ketika tata ruang diabaikan dan ekosistem dipaksa menanggung beban pembangunan, maka banjir, longsor, dan kekeringan menjadi konsekuensi yang tak terelakkan,” ujar Achmad Yusran.
FKH menilai, meskipun regulasi penataan ruang secara normatif sudah cukup kuat, ketiadaan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di seluruh kecamatan membuat pengendalian ruang berjalan lemah. Kondisi tersebut membuka ruang bagi ekspansi kawasan terbangun dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali.
Sebagai langkah strategis, FKH mendesak pemerintah daerah untuk segera mempercepat penyusunan dan penetapan RDTR di seluruh wilayah Kabupaten Gowa. Menurut Achmad Yusran, RDTR merupakan instrumen utama dalam memastikan pembangunan berjalan selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Ia juga menekankan bahwa mitigasi bencana tidak cukup dilakukan melalui respons darurat semata. Diperlukan pembenahan menyeluruh dalam pengelolaan sumber daya alam, perencanaan ruang hidup, perlindungan kelompok rentan, serta penggunaan data dan kajian ilmiah sebagai dasar kebijakan publik.
“Tata ruang berkelanjutan adalah fondasi masa depan dan ketangguhan Gowa. Memperbaiki relasi manusia dan alam berarti membangun masa depan yang lebih adil, tangguh, dan berkelanjutan,” tegasnya.
FKH mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak bersama memperkuat restorasi lingkungan dan mitigasi bencana secara multidimensi. Langkah tersebut dinilai penting bukan hanya untuk menjawab krisis saat ini, tetapi juga demi melindungi kepentingan generasi yang akan datang.
HAMZAN





















