JAKARTA — Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030 dipastikan berlangsung ketat dengan perebutan 17 suara pemilih serta 1 suara Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset yang memiliki bobot 9 suara. Pemilihan akan digelar secara tertutup di Kampus Unhas Jakarta, Jalan Petojo, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2026).
Humas Unhas, Ishaq Rahman, menjelaskan bahwa tiga kandidat rektor akan bersaing memperebutkan suara pemilih Majelis Wali Amanat (MWA) serta suara Mendikti Riset yang memiliki nilai strategis dalam menentukan hasil akhir.
“Pemilihan rektor dilaksanakan secara tertutup. Tiga kandidat akan memperebutkan 17 suara pemilih serta 1 suara Mendikti Riset yang bernilai sembilan suara,” ujar Ishaq Rahman, Selasa (13/1/2026).
Ia menegaskan, apabila salah satu kandidat memperoleh dukungan suara Mendikti Riset, maka kandidat tersebut berpeluang besar menjadi pemenang dan selanjutnya akan ditetapkan dalam Sidang Majelis Wali Amanat Unhas yang dipimpin oleh Ketua MWA, Prof. Alimuddin Unde.
Menurut Ishaq, proses pemilihan dijadwalkan dimulai pukul 10.00 WIB dan akan berlangsung sesuai tata tertib yang telah ditetapkan oleh Majelis Wali Amanat.
Ia juga mengungkapkan bahwa dari 17 pemegang suara pemilih, terdapat kemungkinan satu suara tidak digunakan, yakni dari unsur mahasiswa yang diwakili oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas.
“Hingga saat ini mahasiswa belum mencapai kesepakatan untuk membentuk BEM Universitas, sehingga ada potensi suara dari unsur mahasiswa tidak tersalurkan dalam pemilihan rektor kali ini,” jelasnya.
Dengan komposisi tersebut, suara Mendikti Riset dinilai menjadi faktor kunci yang dapat menentukan arah kepemimpinan Universitas Hasanuddin untuk lima tahun ke depan.
SYUKRI





















