MAROS — Di tengah minimnya ruang ekspresi dan terbatasnya fasilitas kreatif, sekelompok anak muda Maros memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka membangun Salewangang Enthusiast, sebuah gerakan akar rumput yang lahir dari kegelisahan bersama dan tumbuh menjadi komunitas terbuka lintas minat.
Gerakan ini hadir bukan sebagai wadah eksklusif, melainkan ruang temu yang merangkul siapa saja—dari pegiat seni mural hingga komunitas motor, dari pembuat film independen hingga relawan lingkungan, dari pesepeda hingga warga yang hanya ingin terlibat. Tidak ada hirarki kreativitas, tidak ada batasan genre, dan tidak ada “kelas-kelas” yang memisahkan. Semua diposisikan setara.
Pendiri dan penggerak Salewangang Enthusiast melihat bahwa ekosistem kreatif yang sehat tidak lahir dari instruksi satu arah, tetapi dari ruang aman yang memberi kebebasan berekspresi dan keberanian mencoba. Karena itu, komunitas ini dirancang sebagai grassroots space—tempat ide bisa tumbuh, diuji, bahkan gagal tanpa rasa takut dihakimi.
Lebih jauh, Salewangang Enthusiast dibangun sebagai collective ecosystem. Setiap kegiatan menjadi pemantik bagi kegiatan lain. Satu pertemuan melahirkan ide baru, satu kolaborasi membuka peluang kolaborasi berikutnya. Dari proses saling terhubung inilah mereka berharap muncul karya-karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga relevan dengan konteks sosial Maros.
Bagi para penggeraknya, ruang ini juga menjadi semacam “rumah pulang”. Anak muda Maros yang berkarya di luar daerah diharapkan dapat menemukan tempat untuk kembali berkolaborasi, menghubungkan Maros dengan kota-kota lain, bahkan dengan jejaring kreatif nasional.
Gerakan ini lahir dari semangat untuk bergerak, bukan menunggu. Di tengah keterbatasan, mereka memilih membangun ruang sendiri. Tidak ada sekat antara komunitas yang berbeda; perbedaan justru dilihat sebagai kekuatan. Kerja kolaboratif dan nilai saling merangkul menjadi fondasi utama.
Inisiatif ini sekaligus menjadi bentuk perlawanan sunyi terhadap kondisi yang serba terbatas—sebuah pernyataan bahwa kreativitas tidak butuh legitimasi besar, dan kepedulian tidak memerlukan fasilitas mewah. Cukup dengan kepercayaan, solidaritas, dan kemauan untuk memulai, ruang kreatif bisa tumbuh di mana saja.
Dengan semangat tersebut, Salewangang Enthusiast menampilkan wajah baru gerakan kepemudaan di Maros: lahir dari lokal, dirawat bersama, dan bergerak untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan. Mereka menunjukkan bahwa kebersamaan dapat melahirkan masa depan yang diciptakan sendiri—perlahan, kolektif, dan penuh keberanian.
HAMZAN





















