JAMBI – Program transmigrasi kembali menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan warga. Di Desa Karya Harapan Mukti, Kecamatan Pelepat Ilir, Kabupaten Bungo, generasi kedua transmigran kini mampu mandiri sebagai petani sawit dengan pendapatan stabil dan kualitas hidup yang terus meningkat.
Salah satu warga, Erwin Taufan, mengungkapkan bahwa keluarganya mengikuti program transmigrasi dari Sragen, Jawa Tengah, pada 1985. Kini ia mengelola kebun sawit seluas 8 hektare dan memperoleh penghasilan sekitar Rp15 juta per bulan dari setiap 2 hektare lahan yang dikelola. Keberhasilan itu tampak dari perubahan kondisi permukiman warga yang kini dominan rumah permanen, kepemilikan kendaraan, hingga aktivitas ekonomi desa yang semakin hidup.
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, saat meninjau langsung kawasan tersebut menyatakan bahwa keberhasilan warga Kuamang Kuning merupakan bukti bahwa transmigrasi tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, melainkan membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Transmigran yang dulu membuka lahan dari nol, kini telah menjadi petani sawit mandiri. Inilah wajah baru transmigrasi, yaitu kesejahteraan dan kemandirian,” ujar Viva Yoga.
Sebelum mandiri, para transmigran menjalankan skema kemitraan inti–plasma dengan perusahaan swasta. Setelah masa kerja sama berakhir, lahan dan tanaman sawit sepenuhnya menjadi milik petani untuk dikelola secara mandiri.
Saat ini terdapat sekitar 1.000 kepala keluarga di Karya Harapan Mukti, dengan mayoritas menggantungkan hidup dari sektor perkebunan sawit. Pemerintah menilai kawasan ini berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Bungo.
Dalam pengembangannya, Kementerian Transmigrasi juga mendorong industrialisasi kawasan transmigrasi agar tidak berhenti di tingkat produksi bahan mentah. Contohnya telah diterapkan di Kawasan Melolo, Sumba Timur, NTT, melalui pembangunan Pabrik Gula Sumba Manis berbasis kebun tebu rakyat.
Namun demikian, pemerintah menilai sebagian besar tanaman sawit di Kuamang Kuning kini telah memasuki usia tua dan membutuhkan peremajaan. Untuk itu, Kementerian Transmigrasi bersama Kementerian Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Bungo menyiapkan program replanting seluas sekitar 10.000 hektare yang ditargetkan mulai diprioritaskan pada Tahun Anggaran 2026.
“Peremajaan sawit penting agar usaha para transmigran tetap berkelanjutan dan produktivitas lahan terjaga,” kata Viva Yoga.
Program penguatan kawasan transmigrasi ini merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin pembangunan dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Dengan langkah replanting dan industrialisasi, kawasan transmigrasi Kuamang Kuning diproyeksikan menjadi model pengembangan ekonomi berbasis desa yang berkelanjutan di Provinsi Jambi.
SYUKRI





















