MAKASSAR — Setelah Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar pencarian korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 dimaksimalkan, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko menegaskan keseriusan TNI dalam operasi kemanusiaan dan pencarian serta pertolongan (SAR) di wilayah Kabupaten Pangkep. Operasi ini menghadapi tantangan berat akibat medan pegunungan yang ekstrem dan cuaca yang tidak bersahabat.
Menurut Bangun Nawoko, kondisi tersebut memaksa relawan dan aparat gabungan untuk bertahan berhari-hari di jalur operasi dengan tingkat risiko yang tinggi.
“Medan yang sangat terjal dan cuaca ekstrem menjadi hambatan utama dalam proses evakuasi. Kondisi ini sudah kami laporkan langsung kepada Bapak Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dan Panglima TNI setelah dilakukan analisa medan operasi,” ujar Bangun Nawoko kepada wartawan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, Selasa (20/1/2026).
Sebagai bentuk dukungan terhadap tim SAR gabungan, TNI mengirimkan bantuan logistik hampir enam ton menggunakan pesawat CN. Dari jumlah tersebut, sekitar lima ton telah berhasil didistribusikan ke wilayah operasi. Bantuan logistik itu berupa ransum tempur yang disiapkan khusus untuk memenuhi kebutuhan personel SAR di medan ekstrem.
“Logistik yang kami kirim berupa ransum tempur, antara lain Eprocal, Naraga, serta perlengkapan pemanas makanan, untuk menjaga kondisi fisik dan daya tahan personel yang bertugas di lapangan,” jelasnya.
Skala operasi SAR kali ini tergolong lebih besar dibandingkan hari pertama pencarian. Memasuki hari ketiga operasi, jumlah personel yang dikerahkan mencapai 1.075 orang dari berbagai unsur, dengan sekitar 500 personel aktif disebar di titik koordinat jatuhnya pesawat.
Kekuatan ini terbagi ke dalam enam Search and Rescue Unit (SRU) yang menyisir area darat hingga tebing-tebing terjal. Selain itu, pencarian juga melibatkan puluhan warga lokal yang sehari-hari berburu madu hutan dan dinilai memahami betul kawasan pegunungan tersebut.
JUM





















