MAROS — Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulu Saraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terus diperluas. Hingga hari ketiga pascakecelakaan, Tim SAR gabungan baru menemukan dua dari total 10 orang yang berada di dalam pesawat tersebut. Delapan korban lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.
Korban pertama ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, berjenis kelamin laki-laki, di kedalaman jurang sekitar 200 meter dari puncak gunung. Evakuasi dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan medan yang sangat terjal. Sehari kemudian, tim kembali menemukan korban kedua, seorang perempuan, di jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter dari titik temuan pertama.
Pesawat yang menjalankan misi pengawasan udara untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) pukul 13.17 WITA saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar. Kontak terakhir diterima AirNav Makassar ketika pesawat berada di wilayah pegunungan karst Bulu Saraung.
Puing-puing pesawat ditemukan dalam kondisi hancur berkeping-keping di lereng gunung. Investigasi awal menunjukkan pesawat menabrak tebing karst di ketinggian sekitar 1.350 meter di atas permukaan laut (MDPL) sebelum jatuh ke jurang curam.
Hingga kini, delapan korban lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dicari oleh tim SAR gabungan yang bekerja tanpa henti di medan ekstrem.
Pencarian Massal dengan Empat SRU Sekitar 500 Personil
Untuk mempercepat proses evakuasi, Basarnas bersama unsur TNI-Polri dan relawan membentuk empat Search and Rescue Unit (SRU) yang disebar ke sejumlah sektor krusial, yakni jalur Senggerang, Puncak 1, Puncak 2, dan kawasan Buluparea.
Berdasarkan data posko SAR, tiap SRU diisi gabungan personel dari berbagai instansi dan komunitas relawan, di antaranya Basarnas, TNI Babul, Yon Kav 10, Kodim PKP, BPBD Makassar, Polairud Polda Sulsel, Brimob Polda Sulsel, Damkar Makassar, Damkar Maros, SAR Pramuka, SAR Unibos, SAR Locust, Mapala UMI, Mapala PNUP, KSR UMI, PMI Makassar, Redkar, Celebes NVC, KPA Tropica, TRC Tonasa, serta sejumlah komunitas pecinta alam dan relawan kemanusiaan lainnya.
Setiap SRU diperkuat puluhan personel, dengan total ratusan orang dikerahkan dalam operasi pencarian secara massal. Mereka menyisir lereng, jurang, dan titik-titik puing menggunakan teknik rappelling, drone pemantau, serta jalur panjat tebing, menyesuaikan dengan kontur ekstrem kawasan karst.
“Medan di lokasi sangat berbahaya. Tebing curam, jurang dalam, vegetasi lebat, serta kabut tebal menjadi tantangan utama tim di lapangan. Karena itu pencarian dilakukan serentak dari berbagai sektor,” ujar salah satu pejabat Basarnas Makassar di posko induk.
Sejumlah personel SAR bahkan bermalam di Gunung Bulu Saraung guna mengamankan titik temuan korban dan mempercepat proses evakuasi, mengingat jarak tempuh dari posko ke lokasi bisa mencapai berjam-jam.
Di dalam pesawat terdapat 10 orang, terdiri dari awak dan penumpang, termasuk tiga pegawai KKP dari Direktorat PSDKP. Pihak KKP dan Indonesia Air Transport telah menggelar konferensi pers dan menegaskan bahwa pesawat tersebut merupakan pesawat sewaan untuk misi pengawasan, bukan penerbangan komersial reguler.
Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mulai melakukan penyelidikan awal. Dugaan sementara mengarah pada faktor cuaca buruk, jarak pandang terbatas, serta tantangan navigasi di kawasan pegunungan karst. Kotak hitam pesawat masih dalam upaya pencarian untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Operasi SAR akan terus diperluas hingga seluruh korban berhasil ditemukan. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan juga telah menyiapkan posko darurat serta dukungan logistik bagi tim penyelamat dan keluarga korban.
HAMZAN / JUM





















